LAMPUNG - Kembali, pelayanan Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Moeloek (RSUDAM) Lampung jadi sorotan. Seorang siswi kelas 6 SD asal Lampung Selatan (Lamsel) mengembuskan napas terakhir di ruang Kemuning pukul 11.50 WIB, Jumat (11/7/2014). Selama ia kritis hampir sejam lamanya, tak ada dokter yang menanganinya.
Kondisi tubuh bocah bernama Nanda (11) ini payah sejak pukul 11.30. Dua kali ia muntah lewat lubang hidung. Wajahnya pucat dengan keadaan yang sangat lemah. Sampai akhirnya, ajal menjemputnya.
Adalah sang ibu yang kali pertama menyadari putrinya tersebut telah tiada. Beberapa kali ia mengguncang tubuh anaknya sambil berteriak histeris.
"Nanda jangan pergi Nak. Bangun Nak, bangun," isak perempuan berambut ikal itu. Air mata berderai di pipinya. Di sampingnya, sang suami berdiri termangu. Tak ada satu pun kata keluar dari mulutnya. Matanya terpaku pada tubuh putrinya tersebut.
Seorang laki-laki anggota keluarga yang lain mencoba menenangkan ibu Nanda. Tangannya menepuk-nepuk pundak perempuan itu sambil memintanya bersabar. Namun, ia juga tak kuasa menahan air mata.
Baru pada pukul 12.30, seorang dokter jaga laki-laki RSUDAM tergopoh-gopoh datang. Tetapi, semuanya sudah terlambat. Tubuh Nanda yang baru menjalani operasi tumor usus dua hari sebelumnya, Rabu (9/7/2014), telah kaku.
Sang dokter yang menolak namanya disebutkan itu lalu menghampiri ayah Nanda dan berkata: "Kan saya dan pihak RS sudah menyarankan Pak. Selesai operasi, anak Bapak harus langsung dibawa ke RS Cipto (Cipto Mangunkusumo di Jakarta) untuk pengobatan selanjutnya”.
"Tetapi, Bapak malah ngulur waktu. Jadi kalau sudah seperti ini, ya mau diapakan lagi ya Pak" Ini juga sudah ajal. Kalau sudah kehendak Tuhan, kita nggak bisa apa-apa lagi,” sambung dokter berusia sekitar 35 tahun yang bertubuh tinggi besar itu, seperti dilansir jpnn.com.
Keluarga Nanda hanya diam. Isak tangis sang ibu masih terdengar. Lirih, menggantung dalam ruangan kelas III tersebut. Beberapa pasien dan keluarga lain yang ada di sana ikut larut dalam kedukaan. Mereka seolah paham betul rasa sakit ditinggalkan orang yang dicintai.
Setelah mengurus administrasi dan membereskan perlengkapan selama di sana, pihak keluarga membawa Nanda dengan ambulans RSUDAM ke rumah duka, sekira pukul 13.00. Sang ibu yang menggendong adik Nanda sempat pingsan ketika hendak keluar ruangan.
Mia, yang anaknya juga dirawat di ruang Kemuning lantaran hydrochepalus, menjelaskan, kondisi Nanda sudah terlihat lemah sejak Kamis malam (10/7/2014). "Kasihan lihatnya, dia sangat tersiksa,” lirih Mia.
Sementara itu, Direktur Pelayanan RSUDAM Pad Dilangga enggan mengomentari masalah ini. ’’Saya lagi memeriksa pasien sekarang. Halo, halo....” singkatnya sambil menutup telepon.
Humas RSUDAM Esti Komalaria yang beberapa kali dihubungi pun tak mengangkat telepon. Pesan singkat yang dikirimkan wartawan ini juga tidak dibalas.
Dari pantauan, selama dokter tidak ada, sebenarnya empat perawat perempuan telah mencoba membantu Nanda. Mereka membersihkan muntahan dari hidung Nanda, memeriksa denyut nadi, dan membetulkan selang oksigen. Namun apalah daya, mereka tanpa petunjuk seorang dokter.
Seorang laki-laki anggota keluarga yang lain mencoba menenangkan ibu Nanda. Tangannya menepuk-nepuk pundak perempuan itu sambil memintanya bersabar. Namun, ia juga tak kuasa menahan air mata.
Baru pada pukul 12.30, seorang dokter jaga laki-laki RSUDAM tergopoh-gopoh datang. Tetapi, semuanya sudah terlambat. Tubuh Nanda yang baru menjalani operasi tumor usus dua hari sebelumnya, Rabu (9/7/2014), telah kaku.
Sang dokter yang menolak namanya disebutkan itu lalu menghampiri ayah Nanda dan berkata: "Kan saya dan pihak RS sudah menyarankan Pak. Selesai operasi, anak Bapak harus langsung dibawa ke RS Cipto (Cipto Mangunkusumo di Jakarta) untuk pengobatan selanjutnya”.
"Tetapi, Bapak malah ngulur waktu. Jadi kalau sudah seperti ini, ya mau diapakan lagi ya Pak" Ini juga sudah ajal. Kalau sudah kehendak Tuhan, kita nggak bisa apa-apa lagi,” sambung dokter berusia sekitar 35 tahun yang bertubuh tinggi besar itu, seperti dilansir jpnn.com.
Keluarga Nanda hanya diam. Isak tangis sang ibu masih terdengar. Lirih, menggantung dalam ruangan kelas III tersebut. Beberapa pasien dan keluarga lain yang ada di sana ikut larut dalam kedukaan. Mereka seolah paham betul rasa sakit ditinggalkan orang yang dicintai.
Setelah mengurus administrasi dan membereskan perlengkapan selama di sana, pihak keluarga membawa Nanda dengan ambulans RSUDAM ke rumah duka, sekira pukul 13.00. Sang ibu yang menggendong adik Nanda sempat pingsan ketika hendak keluar ruangan.
Mia, yang anaknya juga dirawat di ruang Kemuning lantaran hydrochepalus, menjelaskan, kondisi Nanda sudah terlihat lemah sejak Kamis malam (10/7/2014). "Kasihan lihatnya, dia sangat tersiksa,” lirih Mia.
Sementara itu, Direktur Pelayanan RSUDAM Pad Dilangga enggan mengomentari masalah ini. ’’Saya lagi memeriksa pasien sekarang. Halo, halo....” singkatnya sambil menutup telepon.
Humas RSUDAM Esti Komalaria yang beberapa kali dihubungi pun tak mengangkat telepon. Pesan singkat yang dikirimkan wartawan ini juga tidak dibalas.
Dari pantauan, selama dokter tidak ada, sebenarnya empat perawat perempuan telah mencoba membantu Nanda. Mereka membersihkan muntahan dari hidung Nanda, memeriksa denyut nadi, dan membetulkan selang oksigen. Namun apalah daya, mereka tanpa petunjuk seorang dokter.
Direktur Utama (Dirut) RSUDAM Heri Joko Subandrio pernah berjanji berupaya memperbaiki semua fasilitas dan meningkatkan pelayanan terhadap semua pasien.
"Saya baru menjabat Dirut. Sebelumnya, saya bertugas di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Provinsi Lampung. Sekarang, saya lagi koordinasi dengan semua pihak untuk memperbaiki semua fasilitas. Terutama meningkatkan pelayanan terhadap semua pasien,” ujarnya.
"Saya baru menjabat Dirut. Sebelumnya, saya bertugas di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Provinsi Lampung. Sekarang, saya lagi koordinasi dengan semua pihak untuk memperbaiki semua fasilitas. Terutama meningkatkan pelayanan terhadap semua pasien,” ujarnya.
