Notification

×

Peternak Sapi di Lampung Sesalkan Impor Besar-besaran

11 July 2014 | 18:21 WIB Last Updated 2014-07-11T11:21:24Z

LAMPUNG - Para peternak sapi di Provinsi Lampung menyesalkan kebijakan pemerintah yang membuka keran impor sapi besar-besaran, tanpa memperhatikan kepentingan peternak lokal. Akibatnya, harga sapi hidup di dalam negeri stagnan. Padahal, kini sudah mau mendekati Lebaran.

“Menjelang Lebaran ini harga sapi stagnan. Kalau toh naik, paling sedikit. Penyebabnya, stok sapi dan daging di dalam negeri melimpah pascakebijakan impor sapi besar-besaran yang dikeluarkan pemerintah,” ujar Nanang P Subendro dari Asosiasi Peternak dan Penggiat Sapi Lokal di Lampung Tengah, Kamis (10/7/2014).

Menurut Nanang, saat ini harga sapi hidup dalam kandang di Lampung sekitar Rp 39.000 per kilogram (kg). Angka itu stagnan sejak beberapa bulan terakhir. Seekor sapi ukuran sedang dengan berat daging bersih 150 kg saat ini harganya sekitar Rp 16 juta.

Stagnannya harga sapi, ia melanjutkan, jelas merugikan peternak lokal yang berharap harga sapi naik menjelang Lebaran. Ia berharap, pasca-Lebaran peternak memiliki dana untuk kembali membeli sapi bakalan.

Bahkan melihat kecendrungan harga sapi tidak bakal naik, sudah banyak peternak yang melego sapinya menjelang bulan puasa lalu. Apalagi, saat itu bersamaan dengan tahun ajaran baru kala kebanyakan orang tua membutuhkan dana untuk menyekolahkan anak.

“Kini pengusaha pemotongan sapi sudah memiliki stok yang cukup sehingga sulit bagi harga sapi naik tinggi menjelang Lebaran seperti tahun-tahun sebelumnya,” tutur peternak skala menengah yang banyak menjalin kemitraan dengan peternak kecil di Lampung Tengah.

Menurut Nanang, dengan kebijakan impor sapi besar-besaran seperti sekarang, sulit bagi peternak lokal untuk memperluas skala usahanya. Jadi, akan selamanya Indonesia tidak mencapai swasembada daging. Apalagi belakangan ini, peternak lokal kesulitan mendapatkan sapi bakalan. Kalau pun ada, harganya sudah tinggi.

Indarto, peternak sapi di Kelurahan Bangunsari, Kecamatan Metro Utara, Kota Metro, mengaku sudah menjual empat sapinya. Selain membutuhkan dana untuk Llebaran dan menyekolahkan anak, ia mau beralih beternak bebek.

“Beternak sapi sudah tidak menguntungkan karena harga sapi naik sedikit saja, pemerintah langsung impor sehingga harga kembali jatuh. Karena itu, mendingan saya beternak bebek yang belum ada pesaingnya dari impor,” ujar petani berprestasi tingkat nasional tahun 2013 ini, seperti dilansir sinarharapan.co.

Menurut data Kementerian Perdagangan (Kemendag), realisasi impor sapi siap potong pada triwulan I, terhitung hingga 31 Maret 2014, mencapai 15.834 ekor, baru mencapai 60,06 persen dari jumlah surat persetujuan impor (SPI) yang telah diterbitkan, yakni 26.360 ekor kepada 16 perusahaan.

Untuk sapi bakalan, realisasi impor hingga 30 Maret tercatat mencapai 112.045 ekor atau 86,02 persen dari SPI yang diterbitkan sebanyak 130.245 ekor, yang diberikan kepada 35 perusahaan.

Khusus impor daging sapi terhitung 31 Maret 2014, realisasinya mencapai 17.374,64 ton, hanya 34,04 persen dari SPI yang dikeluarkan untuk periode Januari-Maret sebanyak 51.037,47 ton kepada 75 perusahaan.