![]() |
| Firman Seponada |
LAMPUNG - Menjelang pelaksanaan pemilihan presiden (Pilres) yang akan digelar pada 9 Juli mendatang, KPU Provinsi Lampung
menetapkan daftar pemilih khusus (DPK) pada pemilihan legislatif 9 April lalu sebanyak 22.338 pemilih. Sedangkan untuk
Pilpres saat ini menjadi 10.961 pemilih.
"DPK kita berkurang separo dari 22.338 DPK pada pileg, sekarang hanya 10.961 pemilih yang masuk DPK pilpres. Pengurangan terbanyak di kota Bandar Lampung," kata Ketua Pokja Pemutakhiran Data, Firman Seponada, Rabu (2/7/2014).
"DPK kita berkurang separo dari 22.338 DPK pada pileg, sekarang hanya 10.961 pemilih yang masuk DPK pilpres. Pengurangan terbanyak di kota Bandar Lampung," kata Ketua Pokja Pemutakhiran Data, Firman Seponada, Rabu (2/7/2014).
Sementara itu, mahasiswa mengajak masyarakat di Lampung untuk menggunakan hak pilih dan tidak "golput" sebagai bentuk pertanggungjawaban anak bangsa.
Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam barisan tegakkan mandat (Bersama Kita) menyampaikan pesan itu dengan berjalan kaki sepanjang dua kilometer menuju Tugu Adipura Bandar Lampung.
Selain anjuran untuk tidak "golput", mahasiswa ini juga mengajak masyarakat Lampung memilih pemimpin yang jelas rekam jejaknya, serta telah terbukti kepiawaiannya dalam menyejahterakan masyarakat.
"Jangan sampai kita memilih pemimpin yang belum jelas track-record-nya," kata Koordinator Lapangan Nofra.
Dalam aksi tersebut, mahasiswa menggelar aksi teaterikal yang menggambarkan pengusaha dan kelompok asing kerap membeli masyarakat ekonomi menengah ke bawah dalam membeli suara untuk kemenangan salah satu calon.
Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam barisan tegakkan mandat (Bersama Kita) menyampaikan pesan itu dengan berjalan kaki sepanjang dua kilometer menuju Tugu Adipura Bandar Lampung.
Selain anjuran untuk tidak "golput", mahasiswa ini juga mengajak masyarakat Lampung memilih pemimpin yang jelas rekam jejaknya, serta telah terbukti kepiawaiannya dalam menyejahterakan masyarakat.
"Jangan sampai kita memilih pemimpin yang belum jelas track-record-nya," kata Koordinator Lapangan Nofra.
Dalam aksi tersebut, mahasiswa menggelar aksi teaterikal yang menggambarkan pengusaha dan kelompok asing kerap membeli masyarakat ekonomi menengah ke bawah dalam membeli suara untuk kemenangan salah satu calon.
