![]() |
| Presiden Soekarno saat membuka Konferensi Asia Afrika (KAA) di Bandung, 18 April 1955. (ist) |
JAWA BARAT - Buku yang mengupas pelaku sejarah pada Konferensi Asia Afrika, 'Di Balik Layar' diluncurkan pada rangkaian peringatan Konferensi Asia Afrika (KAA) ke-59 di Museum Konferensi Asia Afrika Bandung.
"Buku berjudul `Di Balik Layar` ini berisikan berbagai rekam sejarah KAA tahun 1955 di mata para pelakunya. Melalui buku ini diharapkan generasi muda dapat merasakan dan meneruskan gairah semangat KAA," kata penulis buku, Sulhan Syafei di Bandung, Kamis (24/4/2014).
Ia menyebutkan, buku tersebut diharapkan bisa menginspirasi anak muda dalam melakukan hal besar seperti KAA tahun 1955.
Menurut Sulhan, melalui KAA banyak negara-negara yang terinspirasi untuk melawan ketidakadilan. Oleh karena itu melalui buku ini ia berusaha untuk memberikan inspirasi dan panduan dengan informasi-informasi yang akurat.
"Semoga buku ini bisa jadi panduan bacaan dengan isinya yang benar," kata Sulhan.
Kepala Perpustakaan dan Arsip Daerah Kota Bandung H. Muhammad Anwar mengatakan dengan diluncurkannya buku sejarah ini maka akan memperlengkap koleksi buku sejarah di perpustakaan-perpustakaan Kota Bandung. Selain itu, ia menjelaskan pada saat ini tengah mempersiapkan Bandung sebagai Kota Buku Sejagat.
"Buku ini akan memperlengkap koleksi buku sejarah di Bandung yang rencananya dipersiapkan sebagai Kota Buku Sejagat," kata Anwar.
Kepala Museum KAA Thomas Adrian Siregar menyambut baik hadirnya buku 'Di Balik Layar' yang mengupas sisi lain dari kegiatan yang diikuti oleh 106 negara dari Asia dan Afrika itu.
Buku sejarah seperti ini dapat memperkaya wawasan dan menambah informasi yang ada di buku-buku sejarah lain. Buku sejarah diperlukan untuk membantu masyarakat dan generasi muda merasakan energi pada KAA tahun 1955.
"Melalui buku Di Balik Layar semoga wawasan kita mengenai KAA lebih baik dan kita bisa turut merasakan energinya," kata Thomas, seperti dilansir iyaa.com.
Beberapa acara peringatan KAA juga menghadirkan para saksi sejarah yang turut terlibat dalam KAA. Para saksi sejarah tersebut diantaranya Hj Romlah Rustandi Martakusumah selaku pendamping delegasi, Paul Tedja Surja selaku wartawan muda yang meliput KAA tahun 1955 dan Solihin GP, yang pada saat itu turut mengamankan pelaksanaan KAA.
"Buku berjudul `Di Balik Layar` ini berisikan berbagai rekam sejarah KAA tahun 1955 di mata para pelakunya. Melalui buku ini diharapkan generasi muda dapat merasakan dan meneruskan gairah semangat KAA," kata penulis buku, Sulhan Syafei di Bandung, Kamis (24/4/2014).
Ia menyebutkan, buku tersebut diharapkan bisa menginspirasi anak muda dalam melakukan hal besar seperti KAA tahun 1955.
Menurut Sulhan, melalui KAA banyak negara-negara yang terinspirasi untuk melawan ketidakadilan. Oleh karena itu melalui buku ini ia berusaha untuk memberikan inspirasi dan panduan dengan informasi-informasi yang akurat.
"Semoga buku ini bisa jadi panduan bacaan dengan isinya yang benar," kata Sulhan.
Kepala Perpustakaan dan Arsip Daerah Kota Bandung H. Muhammad Anwar mengatakan dengan diluncurkannya buku sejarah ini maka akan memperlengkap koleksi buku sejarah di perpustakaan-perpustakaan Kota Bandung. Selain itu, ia menjelaskan pada saat ini tengah mempersiapkan Bandung sebagai Kota Buku Sejagat.
"Buku ini akan memperlengkap koleksi buku sejarah di Bandung yang rencananya dipersiapkan sebagai Kota Buku Sejagat," kata Anwar.
Kepala Museum KAA Thomas Adrian Siregar menyambut baik hadirnya buku 'Di Balik Layar' yang mengupas sisi lain dari kegiatan yang diikuti oleh 106 negara dari Asia dan Afrika itu.
Buku sejarah seperti ini dapat memperkaya wawasan dan menambah informasi yang ada di buku-buku sejarah lain. Buku sejarah diperlukan untuk membantu masyarakat dan generasi muda merasakan energi pada KAA tahun 1955.
"Melalui buku Di Balik Layar semoga wawasan kita mengenai KAA lebih baik dan kita bisa turut merasakan energinya," kata Thomas, seperti dilansir iyaa.com.
Beberapa acara peringatan KAA juga menghadirkan para saksi sejarah yang turut terlibat dalam KAA. Para saksi sejarah tersebut diantaranya Hj Romlah Rustandi Martakusumah selaku pendamping delegasi, Paul Tedja Surja selaku wartawan muda yang meliput KAA tahun 1955 dan Solihin GP, yang pada saat itu turut mengamankan pelaksanaan KAA.
