JAKARTA - Bagi kalangan yang terbiasa memandang Presiden SBY cengeng, pembentukan Grup D Paspampres seolah bisa menjustifikasi tudingan itu.
Paling tidak, fakta pembentukannya memang seperti laiknya bunyi iklan televisi, “Pas SBY akan pensiun, pas Grup D Paspampres dibentuk.” Apalagi, tidak sedikit yang telak-telak menuding adanya skenario tersebut.
Salah satunya mantan Juru Bicara Presiden saat Abdurahman Wahid menjabat, yang kini Koordinator Gerakan Indonesia Bersih (GIB), Adhie M Massardi. Bagi Adhie, pembentukan Paspampres Grup D itu telah menyalahi prinsip-prinsip demokrasi dan sistem pemerintahan sipil.
Pasalnya, setelah selesai masa jabatan, presiden dan wakilnya kembali menjadi warga negara biasa, yang tak perlu dijaga militer. Apalagi saat ini pun para mantan itu telah mendapatkan penjagaan dari kepolisian untuk keamanan mereka.
Karena itu, Adhie melihat Peraturan Pemerintah No 59/2013, yang menurutnya digagas Presiden Yudhoyono, sangat berlebihan.
"Saya melihat adanya kekuatiran luar biasa di balik lahirnya PP tersebut,” kata Adhie. Berkaca pada pengalaman di era Gus Dur, saat itu menurutnya Gus Dur hanya dikawal satu atau dua anggota Paspampres setiap blusukan.
“Tidak pernah terjadi insiden apa pun,"kata dia. Dengan alasan tersebut, Adhie menilai pembentukan grup itu tak lebih dari pemborosan.
“Sebaiknya tidak terjadi pemborosan di tengah rakyat yang dilanda kemiskinan, karena biaya untuk Grup D ini pasti sangat besar,"kata dia.
Sebagaimana dinyatakan Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, pembentukan Grup D itu memerlukan dana sekitar Rp30 miliar. Itu di luar dana untuk kegiatan rutin, yang belum diketahui anggaran yang dibutuhkan.
Sebagaimana dinyatakan Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, pembentukan Grup D itu memerlukan dana sekitar Rp30 miliar. Itu di luar dana untuk kegiatan rutin, yang belum diketahui anggaran yang dibutuhkan.
“Nanti akan diatur Komisi I dan Komisi II DPR,” kata Purnomo.
Kecurigaan juga dilontarkan politisi PDI Perjuangan, Trimedya Panjaitan. Yang membuatnya heran, mengapa baru dilontarkan sekarang, saat SBY menjelang pensiun.
Kecurigaan juga dilontarkan politisi PDI Perjuangan, Trimedya Panjaitan. Yang membuatnya heran, mengapa baru dilontarkan sekarang, saat SBY menjelang pensiun.
"Terlambat, harusnya sejak dulu. Sehingga jadi kesan kenapa SBY lengser baru dibuat sekarang," kata Trimedya.
Keheranan itu bertambah karena selama ini para mantan presiden dan wakil presiden telah mendapat pengamanan yang baik dari kepolisian. Ada 15 personel polisi yang menjaga mantan wakil presiden dan keluarganya setiap hari, seperti misalnya terjadi pada keluarga mantan Wapres Jusuf Kalla.
Tetapi Juru Bicara Presiden, Julian Aldrin Pasha, membantah beredarnya isu bahwa pembentukan Grup D Paspampres itu atas usul SBY.
Keheranan itu bertambah karena selama ini para mantan presiden dan wakil presiden telah mendapat pengamanan yang baik dari kepolisian. Ada 15 personel polisi yang menjaga mantan wakil presiden dan keluarganya setiap hari, seperti misalnya terjadi pada keluarga mantan Wapres Jusuf Kalla.
Tetapi Juru Bicara Presiden, Julian Aldrin Pasha, membantah beredarnya isu bahwa pembentukan Grup D Paspampres itu atas usul SBY.
“Semua ini usulan Paspampres. Kalau ada yang bilang ini usulan dari Bapak Presiden atau dari dalam (istana), itu tidak benar,” kata Julian.
Bila saja sebaliknya, yakni usulan itu benar-benar datang dari Presiden SBY, barangkali Pak Presiden sebaiknya berkaca dari pengalaman mantan Presiden Mohammad Hatta. Kita tahu, setelah pensiun dari wapres, kondisi ekonomi Hatta begitu memprihatinkan.
Sejarah mencatat, suatu saat karena kesulitan berlarut-larut sehubungan dengan utang pembangunan rumahnya yang tak mungkin terlunasi pensiun, Hatta pernah menyurati Presiden (saat itu) Soeharto. Isinya, meminta agar pensiunnya dibayarkan sebesar 50 persen gaji, bukan 23 persen gaji sebagaimana diterimanya selama itu.
“Saya tidak meminta supaya saya diperlakukan sebagai pegawai negeri biasa yang menerima pensiun. Saya minta supaya pensiun saya persentasenya 50 persen dari gaji tidaklah berkelebihan,” tulis Hatta.
Bila saja sebaliknya, yakni usulan itu benar-benar datang dari Presiden SBY, barangkali Pak Presiden sebaiknya berkaca dari pengalaman mantan Presiden Mohammad Hatta. Kita tahu, setelah pensiun dari wapres, kondisi ekonomi Hatta begitu memprihatinkan.
Sejarah mencatat, suatu saat karena kesulitan berlarut-larut sehubungan dengan utang pembangunan rumahnya yang tak mungkin terlunasi pensiun, Hatta pernah menyurati Presiden (saat itu) Soeharto. Isinya, meminta agar pensiunnya dibayarkan sebesar 50 persen gaji, bukan 23 persen gaji sebagaimana diterimanya selama itu.
“Saya tidak meminta supaya saya diperlakukan sebagai pegawai negeri biasa yang menerima pensiun. Saya minta supaya pensiun saya persentasenya 50 persen dari gaji tidaklah berkelebihan,” tulis Hatta.
Ingin tahu jumlahnya? Tak lain Rp 2.300 per bulan, yang masih dipersulit dengan inflasi yang terus terjadi.
Baru delapan tahun kemudian, setelah surat per tanggal 30 Juli 1970 itu, Soeharto meluluskan permintaannya. Hatta, pada 1978 menerima pensiun Rp 1 juta sebulan, sesuai pensiun para wapres lainnya.
Mungkin, para pensiunan memang tak layak tetap berpikir sebagaimana ketika masih duduk di kursi jabatan. Sebab, memang hanya dengan itu mereka bisa menjadi kian bijak seiring menuanya usia.
Mungkin para pensiunan sebaiknya menghayati makna lagu yang dinyanyikan penyanyi legendaris Lebanon, Nouhad Wadi Haddad, atau lebih dikenal sebagai Fairuz.
“Pernahkah kau buat rumput jadi ranjang/ Dan berselimutkan luasnya ruang/ merasa dhaif di hadapan yang kelak/ dan lupa akan akan waktu silam yang hilang/”
Baru delapan tahun kemudian, setelah surat per tanggal 30 Juli 1970 itu, Soeharto meluluskan permintaannya. Hatta, pada 1978 menerima pensiun Rp 1 juta sebulan, sesuai pensiun para wapres lainnya.
Mungkin, para pensiunan memang tak layak tetap berpikir sebagaimana ketika masih duduk di kursi jabatan. Sebab, memang hanya dengan itu mereka bisa menjadi kian bijak seiring menuanya usia.
Mungkin para pensiunan sebaiknya menghayati makna lagu yang dinyanyikan penyanyi legendaris Lebanon, Nouhad Wadi Haddad, atau lebih dikenal sebagai Fairuz.
“Pernahkah kau buat rumput jadi ranjang/ Dan berselimutkan luasnya ruang/ merasa dhaif di hadapan yang kelak/ dan lupa akan akan waktu silam yang hilang/”
