Notification

×

Begini Modus Penjualan Ponsel Pintar Supercopy di Lampung

03 March 2014 | 15:06 WIB Last Updated 2014-03-05T08:06:27Z

LAMPUNG – Semakin hari, teknologi telepon seluler mengalami perkembangan yang sangat pesat. Ponsel tidak lagi menjadi alat untuk sekadar menelepon ataupun berkirim pesan. Kebutuhan akan informasi dan hiburan membuat orang semakin bergantung pada alat komunikasi yang sudah menjelma menjadi ponsel pintar (smartphone) ini.

Tak heran jika angka penjualan ponsel pintar semakin meningkat. Setiap produsen pun saling berkompetisi untuk menawarkan produk terbaik demi merebut hati konsumen. Harga yang ditawarkan pun bervariasi dan biasanya sebanding dengan kemampuan ponsel tersebut.

Nah, pasar yang sangat besar itulah yang dimanfaatkan oleh produsen ”abal-abal” untuk melakukan pemalsuan. Hal itu dilakukan dengan mengubah komponen suatu ponsel pintar tanpa mengganti merek yang tertera.

Perbedaan komponen menjadikan harga jualnya menjadi lebih murah dibandingkan harga jual produsen sebenarnya. Belakangan ini pun mulai bermunculan ponsel pintar yang sangat mirip dengan aslinya. Saking miripnya, ponsel tersebut disebut dengan istilah supercopy.

Modus penjualan ponsel pintar supercopy biasanya melakukan promosi melalui pesan singkat, yang disebar berantai secara acak. Beberapa lagi dilakukan secara online. Dalam melakukan promosi, penjual umumnya mencantumkan daftar tipe ponsel pintar yang telah memiliki merek. Daftar itu disertai harga yang lebih murah dibandingkan harga pasaran. Memang ada beberapa penjual yang secara ”jujur” menyebutkan barang yang ditawarkan adalah supercopy alias tidak asli.

Salah satunya adalah Guan (bukan nama sebenarnya). Ia mengaku, ponsel pintar supercopy cukup diminati. Hal itu karena harganya yang lebih murah dibandingkan barang aslinya. Saking miripnya, ponsel supercopy tidak terlihat bedanya bila disandingkan dengan yang asli.

"Saya kasih tahu kalau barang yang saya jual itu supercopy, tiruannya. Ada beberapa spek (spesifikasi) yang berbeda dengan aslinya. Karena harga lebih murah, ada saja yang mau," kata Guan, Kamis (27/2/2014).

Pernyataan Guan diamini Gerry (19), pengguna ponsel pintar supercopy. Gerry mengaku berminat membeli ponsel supercopy karena tergiur harga yang murah. Sebab, harga merek aslinya masih terlampau tinggi.

"Saya belinya (melalui) online. Hampir sama saja (dengan aslinya). Ada beda-beda, tapi sedikit. Ada beberapa fitur yang memang cuma bisa dipakai di (ponsel pintar) orisinal. Di supercopy tidak bisa. Sama tidak ada garansi. Jadi kalau sudah rusak, ya sudah. Tetapi, ponsel punya saya sudah tiga bulan beli, masih 'sehat'," papar Gerry.

Berbeda dengan Eriyanto (21). Ia enggan membeli ponsel supercopy karena kualitasnya buruk. Terlebih, ponsel pintar supercopy tidak dilengkapi dengan garansi. Jika rusak, ponsel supercopy tidak bisa diservis di konter resmi.

"Banyak yang cuma tahan tiga bulan. Mau dibetulkan juga ke mana. Komponennya juga bukan asli. Tidak mungkin kan ke service center ponsel aslinya. Memang, harganya lebih murah. Itu supercopy dijual Rp 2,5 juta. Kalau aslinya Rp 7 jutaan. Tetapi ya itu, cuma tiga bulan doang dipakainya," ucap Eriyanto.

Menurut Eriyanto, kualitas ponsel pintar supercopy semakin hari memang semakin mirip aslinya. Walaupun begitu, pengujian kemampuan ponsel yang akan dibeli sulit dilakukan. Sebab, penjual hanya menyediakan contoh.

"Rata-rata, kalau ada yang pesan baru dikirimkan. Karena, mereka jualannya online. Kalau sudah dibeli, buka segel kotak, terus jelek, tidak bisa dikembalikan. Kan tidak ada garansi," kata Eriyanto.

Guan membenarkan hal itu. Menurutnya, ia hanya menyediakan satu model apabila pembeli ingin melihat barang yang akan dibeli. Sebab, barang-barang yang dijual sudah tersegel.

Tahu Spesifikasi

Calon pembeli setidaknya harus mengetahui spesifikasi komponen ponsel pintar yang akan dibeli. Hal itu penting untuk menghindari modus promosi penjualan ponsel pintar dengan harga murah, yang marak melalui pesan singkat maupun online.

Dosen Teknologi Informasi Sekolah Tinggi Satu Nusa Reza Sungkar mengatakan, perbedaan utama antara barang supercopy dengan orisinal biasanya terletak pada resolusi gambar dan prosesor.

"Kalau dilihat secara kasat mata, itu sama persis (antara supercopy dan asli). Jadi, sulit untuk membedakan. Paling mudah, langsung coba fitur kamera saat membeli. Kalau resolusinya rendah dibandingkan spesifikasi asli, itu pasti supercopy. Resolusi rendah terlihat dari hasil gambar yang lebih kasar," urai Reza.

Hal lain yang perlu dilakukan saat membeli, lanjut Reza, adalah memastikan garansi setelah penjualan. Penjualan barang asli selalu disertai dengan garansi produsen melalui agen di negara bersangkutan. "Kalau supercopy tidak ada garansi. Kalau setelah beli dua hari rusak, ya sudah," ungkap Reza.

Ponsel pintar supercopy, menurut Reza, banyak dibuat di Cina. Awalnya, beberapa produsen di Cina sebenarnya membuat merek tertentu. Tetapi, karena kurang laku di pasaran, akhirnya mereka membuat supercopy dari merek yang sudah terkenal.

"Sebenarnya, supercopy ini sudah lama ada. Kenapa banyak tersebar di Indonesia? Karena di Indonesia mudah masuknya. Bisa laris, karena harganya yang lebih murah," tutur Reza.

Dikatakannya, ada dua merek ponsel pintar yang kerap dibajak dan menjadi ”korban” duplikasi, yakni Samsung dan iPhone. Hal itu karena dua merek tersebut sudah sangat terkenal dan memiliki kualitas bagus. Tetapi, harga jual keduanya masih tergolong tinggi bagi masyarakat menengah ke bawah, khususnya di Indonesia.

"Branding terkenal itu lebih diminati. Tetapi, karena harga mahal, akhirnya muncul supercopy. Walaupun, kualitasnya sangat jauh dibandingkan dengan merek aslinya. Cuma, karena harga yang murah, masyarakat akhirnya tergiur," terang Reza.

Meski keberadaan ponsel pintar replika di Lampung marak, peredaran barang bajakan tersebut dinilai tidak terlalu mengganggu penjualan ponsel asli.

”Pangsa pasarnya beda. Konsumen sekarang juga pintar. Masih banyak masyarakat yang membeli barang dengan memperhatikan kualitasnya,” kata pengelola toko ponsel Blackberry City Panji Daniel.

Meskipun harga ponsel bajakan jauh lebih murah, terus Panji, penjualan produk ponsel asli selama ini tidak terganggu. ”Awalnya memang banyak konsumen yang tanya dan ingin beli smartphone bermerek tapi dengan harga murah, terutama untuk produk Samsung. Tapi, setelah dijelaskan perbedaannya, akhirnya konsumen tetap pilih yang asli, walaupun harganya lebih mahal dari yang supercopy,” kata dia.