Notification

×

Waspada ! Kota Bandar Lampung Endemis DBD

24 January 2014 | 10:22 WIB Last Updated 2016-07-31T11:09:09Z

BANDAR LAMPUNG - Warga Bandar Lampung diminta lebih waspada terhadap berbagai penyakit yang timbul selama musim penghujan, terlebih demam berdarah dengue (DBD). Pasalnya, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandar Lampung merilis seluruh kecamatan masuk status endemis DBD.

Sekretaris Dinkes Bandarlampung, Amran mengatakan, data tersebut didapat dari seluruh Puskesmas yang ada di Kota Tapis Berseri. 

"Dari data Puskesmas di tiap kecamatan, semuanya bilang bahwa wilayahnya masuk status endemis DBD," ujarnya, seperti dilansir dari kupastuntas.co.id, Jumat (24/1/2014). Namun begitu, kata Amran, Diskes Bandar Lampung belum menyatakan status kejadian luar biasa untuk DBD. 

"Yang jelas kami akan mengantisipasi hal tersebut dengan melakukan fogging atau pengasapan di setiap wilayah yang rawan DBD," ungkapnya.

Amran menambahkan, dari data terakhir tahun 2013, terdapat 3 orang meninggal dunia akibat penyakit yang ditularkan nyamuk Aedes Aegypti tersebut. Pihaknya pun tidak dapat menyebutkan pasti berapa jumlah orang yang terkena penyakit DBD selama tahun 2013 sampai Januari 2014.

"Saya baru mengecek di akhir tahun 2013. Sedangkan untuk bulan Januari ini belum dapat memastikan berapa jumlahnya," kata dia.

Amran mengatakan, pihaknya terus melakukan program penanggulangan DBD ke rumah-rumah warga. Selain fogging, dilakukan pula pembagian bubuk abate. Dirinya juga menghimbau kepada masyarakat agar menjaga kebersihan tempat tinggalnya. Hal ini agar jentik-jentik nyamuk tidak cepat berkembang biak dalam kubangan air.

"Saat ini hujan hampir setiap hari mengguyur Kota Bandarlampung, sehingga dipastikan banyak genangan air yang dapat menjadi sarang nyamuk. Ini menjadi ancaman tersendiri terkait kemungkinan meluasnya penderita DBD," tandasnya.

Sementara itu Walikota Herman HN menuturkan, pihaknya sudah memerintahkan Dinkes dan seluruh Puskesmas untuk melaksanakan fogging. Sebab, fogging merupakan salah satu upaya untuk memberantas nyamuk Aedes Aegypti.

"Saya menilai jumlah nyamuk tidak sebanding dengan pelaksanaan program 3M. Perkembangbiakan nyamuk jauh lebih cepat, sehingga dibutuhkan kesadaran masyarakat untuk melaksanakan program 3M. Yakni mengubur barang bekas, menguras tempat penampungan air, dan menutup tempat penampungan air," jelasnya.