BALI - Pemerintah memastikan penderita diabetes di seluruh pelosok Nusantara tertanggung program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang berlaku per 1 Januari 2014.
"Semua masyarakat yang terdaftar sebagai penerima JKN berhak mendapatkan perawatan kesehatan, termasuk penderita diabetes," kata Direktur Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan, Ekowati Rahajeng, di Kuta, Bali, Sabtu (18/1/2014).
Ia menjelaskan bahwa program JKN sudah mencakup semua biaya perawatan, termasuk rawat inap untuk penderita diabetes.
Menurut Ekowati, masyarakat yang termasuk kategori prediabetes sudah bisa berobat dengan menggunakan JKN di puskesmas terdekat.
Oleh sebab itu, dia berharap program JKN mampu mengurangi jumlah penderita diabetes sehingga upaya pemerintah dalam menyehatkan masyarakat makin meningkat.
Selain itu, melalui JKN seluruh masyarakat memperoleh pelayanan kesehatan yang sama. "Namun masyarakat perlu sadar untuk menjaga pola makan dan tidak berobat ketika penyakitnya sudah parah," ujarnya di sela-sela acara "Global Diabetes Forum" itu, seperti dilansir iyaa.com.
Penderita diabetes di Indonesia mencapai delapan juta orang pada 2011. Angka itu meningkat lagi menjadi 8,5 juta orang pada 2013. Indonesia menduduki peringkat ketujuh penderita diabetes.
Peringkat Ketujuh
Indonesia menduduki peringkat ketujuh negara yang penduduknya menderita penyakit diabetes dengan jumlah delapan juta orang pada 2011 menjadi 8,5 juta pada 2013.
"Dari jumlah itu, 90 persen penyakit diabetes di Indonesia termasuk kategori II atau yang disebabkan faktor keturunan," kata Ketua Persatuan Diabetes Indonesia (Persadia) Prof Sidartawan Soedondo, MD, PhD, Face, di Kuta, Bali, Sabtu.
Menurut dia, anak-anak, remaja, dan dewasa muda sangat mudah terserang diabetes kategori II. "Kalau anak muda kebanyakan karena gaya hidup yang tidak sehat," ujarnya di sela-sela acara "Global Diabetes Forum" itu.
Gaya hidup yang tidak sehat itu, jelas dia, berdampak pada kenaikan berat badan yang dapat memicu serangan diabetes. "Faktor lain yang memicu diabetes adalah urbanisasi dan kurangnya aktivitas seseorang," katanya.
Jika dipersentasekan, Sidartawan memperkirakan 5,7 persen masyarakat yang tersebar di seluruh pelosok Tanah Air terkena penyakit diabetes.
"Diabetes tidak terlihat gejalanya dan baru terdeteksi setelah kronis," kata Ketua Persadia,
Bahkan dalam penelitiannya terungkap bahwa 70 persen masyarakat Indonesia tidak mengetahui jika dirinya terkena diabetes.
Ia menganggap bahwa penyakit diabetes di Indonesia sudah sangat memprihatinkan karena masyarakat berobat jika sudah penyakitnya kronis.
Untuk mendeteksi secara dini faktor penyakit risiko tersebut, lanjut dia, masyarakat perlu melakukannya sejak dini dan berkala sehingga prevalensi diabates dapat ditekan.
"Sekali terkena diabetes, maka penderitaannya bisa mencapai seumur hidup," kata Sidartawan.
