Notification

×

Pelajar SD Meninggal, Diduga Alami Kekerasan di Sekolah

30 December 2013 | 07:34 WIB Last Updated 2013-12-30T00:34:46Z

LAMPUNG -
Seorang siswa kelas IV SDN 2 Waringin Sari Timur, Kecamatan Adiluwih, Kabupaten Pringsewu, Lampung, Stefanus Betran Yuda Aditya, meninggal dunia setelah diduga mendapat tindak kekerasan di sekolah. Stefanus dinyatakan meninggal pada Senin (23/12/2013) pukul 16.00 WIB karena mengalami pendarahan di bagian kepala akibat benda tumpul.

Nasib nahas menimpa Stefanus ketika pada Jumat (20/12/2013) tiba-tiba diantar pulang ke rumah oleh seorang guru. Menurut sang guru, Stefanus pingsan di sekolah. Di rumah, badan Stefanus lemas dan muntah-muntah. Orang tua Stefanus mengira sang anak hanya menderita masuk angin. Stefanus kemudian dibawa ke rumah sakit terdekat untuk diperiksa.

"Karena tidak ada perubahan, langsung dirujuk ke RS Immanuel di Bandar Lampung. Dokter bilang mungkin kena bakteri di lambung. Orang tuanya juga tidak menjelaskan dia kenapa di sekolah, orang tuanya juga tidak begitu tahu. Di rumah sakit penangannya justru penyakit perut. hari kedua, akhirnya di-scan, ternyata otak kecil, otak kehidupannya pecahnya, Stefanus tidak tertolong lagi," terang perwakilan keluarga, Maria, seperti dilansir metrotvnews.com, Minggu (29/12/2013).

Pihak keluarga merasa bingung dengan kenyataan ini. Pasalnya, ketika berangkat sekolah Stefanus dalam keadaan sehat walafiat. Tak puas, pihak keluarga mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Sayangnya, pihak sekolah tak mau terbuka soal apa yang terjadi pada Stefanus sebelum diantar kembali ke rumah pada saat jam belajar masih berlangsung.

Berdasarkan info yang dihimpun keluarga, setelah senam, murid-murid melakukan kegiatan bersih-bersih. Pada saat itu, ada seorang anak yang melemparkan sampah ke tubuh Stefanus. Stefanus pun mengingatkan temannya agar tidak membuang sampah sembarangan, apalagi melemparkannya ke tubuh orang.

"Stefanus kemudian dipukul. Entah kena apanya. Pada saat itu tidak ada guru yang mengawasi. Kepala sekolah tidak berada di tempat. Guru olahraga yang harusnya mengawasi juga tidak ada. Menurut temannya, Stefanus di tonjok di bagian kepala, tapi apa mungkin setelah itu dia jatuh terjungkal juga tidak dijelaskan, guru juga tidak tahu pastinya. Pihak sekolah menutupi, kalau kecelakaan biasa tidak mungkin sampai seperti ini," kisah Maria.

Keluarga semakin kecewa ketika salah satu guru mengatakan perkelahian antar anak laki-laki adalah hal biasa. Yang penting, anak-anak itu tidak menangis ketika berkelahi. "Tapi kalau sudah begini bagaimana? Nanti akan ada yang seterusnya," tambah Maria.

Pihak keluarga akhirnya melaporkan kejadian ini ke Polsek Sukoharjo. Namun, karena dibutuhkan proses, kasus ini tidak bisa langsung ditindaklanjuti.

"Yang kami tuntut sebenarnya kelalaian pihak sekolah yang membiarkan anak murid sampai begitu kok tidak tahu kenapa? Harusnya ada guru yang mengawasi. Kami juga masih berduka terus terang, karena kehilangan Stefanus. Dia anak semata wayang," tutup Maria.