Notification

×

Penyelundupan Sabu-Sabu Modus Baru Digagalkan

08 September 2013 | 22:07 WIB Last Updated 2013-09-08T15:07:03Z

LAMPUNG SELATAN - Jajaran Sat Narkoba Polres Lampung Selatan dan KSKP Bakauheni menangkap Muni alias Hasan alias Acay (40), warga Cikaret, Kota Bogor, pemilik 3 paket sabu-sabu sebanyak 30 gram, yang dikirim melalui jasa pengiriman salah satu bus angkutan kota antarprovinsi (AKAP).

Menurut Kasat Narkoba Polres Lampung Selatan AKP Aden Kristiantonomo, penangkapan Acay merupakan hasil pengembangan dari diamankannya tiga paket sabu-sabu yang dikemas ke dalam bungkus mi instan dan dikirim melalui jasa pengiriman barang AKAP, oleh petugas seaport interdiction Pelabuhan Bakauheni pada Kamis (5/9/2013).

"Saat dilakukan pengembangan ke alamat tujuan. Kita mendapati dua orang yang mengambil paket. Namun dari keterangan keduanya, mereka disuruh tersangka Acay. Dan keduanya tidak mengetahui jika paket tersebut berisi narkoba, sebab mereka hanya diberitahu paket berisikan makanan," papar Aden, Minggu (8/9/2013).

Petugas pun lalu mencokok tersangka Acay. Dari pengakuan tersangka, barang haram tersebut dipesannya dari seseorang bernama Acun (buron) yang berada di Jambi. Tersangka memesan enam paket sebanyak 60 gram. Namun baru dikirim 30 gram.

Kasat Narkoba Polres Lampung Selatan AKP Aden Kristiantonomo mengatakan, pengiriman paket sabu-sabu dengan memasukannya ke dalam bungkus mi instan lalu dikemas kembali dan kirim, merupakan modus baru.

Menurutnya, dari pengakuan tersangka Acay, pemilik paket sabu-sabu sebanyak 30 gram yang berhasil diendus petugas seaport interdiction Pelabuhan Bakauheni pada Kamis lalu, dirinya sudah dua kali melakukan pengiriman paket sabu-sabu.

"Sebelumnya sudah pernah mengirim dengan modus yang sama sebanyak 20 gram. Untuk pengiriman yang kedua ini berhasil diendus petugas," ungkapnya.

Menurutnya, keterbatasan peralatan menjadi kendala petugas untuk melakukan pemeriksaan dengan lebih teliti di seaport interdiction. Selama ini para petugas hanya mengandalkan insting naluri.

"Alat pedeteksi yang ada rusak. Begitu juga dengan anjing pelacak juga sudah tidak efektif, karena sudah tua," tandasnya.