Notification

×

Pengamat: Indonesia Perlu Presiden yang Jujur

25 September 2013 | 14:56 WIB Last Updated 2013-09-25T07:56:46Z
I Gede Janamijaya

DENPASAR - Pengamat politik I Gede Janamijaya mengatakan Indonesia ke depannya memerlukan presiden yang jujur dan berintegritas supaya bisa membawa bangsa ke arah yang lebih baik.

"Selama ini banyak tokoh dan figur yang pintar, tetapi kejujurannya masih dipertanyakan di tengah maraknya kasus korupsi," katanya yang juga Sekretaris Asosiasi Ilmu Politik Indonesia (AIPI) Provinsi Bali, di Denpasar, Rabu (25/9/2013).

Menurut dia hendaknya pemimpin dapat mengedepankan kejujuran dan berintegritas karena dengan demikian barulah figur seperti itu berani memperjuangkan kepentingan rakyat yang lebih luas.

"Jika tidak berintegritas, maka ketika berkuasa, bisa jadi yang diutamakan selalu kepentingan kelompok dan parpolnya serta kebijakan yang diambil tidak benar-benar untuk rakyat," ujarnya yang juga Wakil Dekan I Fisip Universitas Warmadewa itu.

Ia menambahkan menjadi lebih baik kalau calon presiden ke depan itu merupakan tokoh muda dan tidak diisi oleh wajah-wajah sepuh. Selain pemimpin muda itu energik, setidaknya dia bisa terlepas dari warisan sejarah yang kelam.

"Berdasarkan hasil-hasil survei yang berkembang, saya memprediksi para pemilih pemula dan juga kaum pemuda-pemudi akan cenderung memilih capres yang muda juga karena sekarang sudah mulai bermunculan gerakan pemimpin baru yang bersih," katanya.

Jana berpendapat, sejauh ini Gubernur DKI Jakarta Jokowidodo (Jokowi) sudah memiliki beberapa persyaratan ideal sebagai capres. Kebijakan-kebijakan yang dibuat untuk rakyat juga cukup berani dan popularitasnya cukup tinggi berdasarkan hasil berbagai lembaga survei.

"Oleh karena itu, jika PDIP benar-benar menginginkan bisa memenangkan pemilu, partai ini harus bisa mengambil keputusan mengusung Jokowi. Hanya masalahnya, Megawati terlihat belum berani melepas politik dinastinya. Belum tentu menang juga jika capres yang diusung PDIP masih menyandang nama Soekarno," ujarnya.

Dengan melihat beberapa hasil pilkada, ucap dia, figur itu sangat menentukan. Rakyat sudah mulai mengurangi kepercayaan terhadap parpol dengan banyaknya kader-kader partai yang "lompat pagar".

"Tindakan semacam itu mengesankan parpol tak memiliki ideologi sehingga untuk apa juga mempercayai parpol," kata Janamijaya.