LAMPUNG - Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Provinsi Lampung Muhamad Yusuf Kohar mengingatkan, bekal pendidikan yang memadai bagi pekerja rumah tangga (PRT) perlu ditumbuhkan untuk dapat menekan praktik percaloan.
"Buat ruang pendidikan untuk PRT sehingga dapat menciptakan profesionalisme mereka," kata Kohar pada Workshop Jurnalis Meliput Isu Pekerja Rumah Tangga (PRT) dan Pekerja Rumah Tangga Anak (PRT Anak) yang diselenggarakan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandarlampung bersama International Labour Organization (ILO) Indonesia, di Taman Wira Garden, Bandar Lampung, Minggu (8/9/2013).
Profesional bagi PRT itu, menurut dia, bisa dilakukan melalui magang di binatu untuk mampu melakukan pekerjaan mencuci dan menyeterika dengan baik, belajar memasak di restoran, magang di rumah bersalin, di hotel, di rumah makan maupun panti jompo yang dapat membekali para PRT itu dengan kemampuan praktis yang akan mereka kerjakan.
"Kita mengirim orang tidak ada yang detail kapasitas atau kemampuan profesionalnya, masih kelas calo, mendapatkan hasil dari keringat orang lain. Tapi kalau sudah ada pelatihan dari lembaga tertentu, akan mencetak PRT profesional di Lampung. Kalau profesional, tentu mereka akan digaji secara bagus," katanya.
Berkaitan perlu adanya kontrak kerja PRT dan majikannya, Ketua Apindo Lampung itu menyatakan pada prinsipnya menyetujui hal tersebut.
"Tapi perlu pelan-pelan, majikan belum paham dengan aturan itu. Kalau di Singapura sudah paham, dilakukan dengan kontrak. Di sini banyak calo bermain, sebagai pemasok PRT," ujarnya.
