BANDUNG - Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengungkapkan adanya usulan dari Pemda di Lampung untuk mengurangi volume Gunung Anak Krakatau (325 mdpl) di Perairan Selat Sunda dengan alasan mitigasi.
Opsi tersebut bahkan dijadwalkan dibahas dalam pertemuan di Kementerian Kehutanan di Jakarta, Senin (16/9/2013) mendatang, termasuk menyerahkan kajiannya ke tim independen.
"Alasannya agar Anak Krakatau tidak meletus besar, karena itu dijaga agar tidak tumbuh besar, tapi ini tidak tepat, karena mitigasi itu bukan mengutak-atik sumbernya," tandas Kepala PVMBG, M Hendrasto di Bandung, Jumat (13/9/2013).
PVMBG sendiri tegas menolak langkah yang dianggap tidak lumrah itu. Terlebih, kekuatan letusan tidak berhubungan dengan besar kecilnya tubuh gunung api. Apalagi bagi gunung sekelas Anak Krakatau yang pernah meletus hebat pada Agustus 1883.
Menurut Totok, demikian Hendrasto disapa, usulan itu sebenarnya pernah muncul pada 2006. Pihaknya pun sudah melayangkan hasil kajiannya melalui Kemenhut. Karena itu, dia merasa heran ketika usulan itu muncul kembali.
Dia menyebut fenomena tersebut seperti halnya kondisi yang dialami pada objek gunung api di Tanah Air. Totok tak menampik bahwa ada strategi dalam pengurangan bahaya letusan dengan sedikit merekayasa gunung apinya. Namun itu pun sangat terukur dan memungkinkan, serta kasusnya berbeda.
Di antaranya seperti di Gunung Kelud, Jatim atau Galunggung, Jabar. Di sekitar kawah kedua gunung tersebut dibuatkan terowongan untuk mengurangi debit airnya.
