JAKARTA - Tingkat volatilitas atau naik turunnya pemilih pada Pemilu 2009 sebesar 29,9 persen. Asumsi angka ini tidak berubah pada Pemilu 2014. Dengan ini, maka tiap partai rata-rata berpotensi kehilangan atau kelimpahan suara.
Bagi partai yang citranya baik atau membaik, ada peluang mendapat limpahan suara pemilih migran. Namun bagi partai yang citranya rusak karena terkena kasus, akan berpotensi kehilangan minimal suaranya pada kisaran volatilitas tersebut. Dan bahkan bisa jauh lebih besar tergantung faktor 'X' yang merusak citra.
Demikian paparan Boni Hargens, Direktur Lembaga Pemilih Indonesia (LPI) saat mengawali diskusi "Peta Pergeseran Partai di Pemilu 2014" di Cikini, Jakarta (15/5/2013).
Lewat analisisnya, Boni Hargens memprediksikan Partai-Partai yang akan mengalami Pergeseran Pemilih sebagai berikut:
1. PDIP
Partai ini diuntungkan karena perannya sebagai partai oposisi yang secara tegas dan konsisten terhadap isu-isu serius seperti skandal Century, serta diuntungkan oleh kegagalan ruling parties. Dampaknya akan mendapatkan limpahan suara dan peluangnya besar. Partai ini akan menjadi pemenang Pemilu Legislatif.
2. Golkar
Partai ini seharusnya mengalami penyusutan dukungan yang signifikan, minimal sebesar angka volatilitas 2009, karena partai ini bagian partai koalisi pemerintah, sosok ketua umum yang kontroversial, konflik internal. Namun partai ini berhasil melakukan marketing dan manajemen partai yang membaik, sehingga diprediksikan Golkar akan bertengger di Posisi kedua setelah PDIP.
3. Demokrat
Partai ini fenomenal, muncul 2004 dan menakjubkan 2009 sebagai pemenang. Namun karena skandal korupsi politik, dan kualitas pemerintahan SBY yang mendapatkan banyak kekecewaan dari rakyat. Akibatnya 2014 partai ini akan ditinggalkan pemilih, dan diprediksi partai ini akan memperoleh suara 7,45 sampai 10,45 persen pada Pemilu 2014.
4. PPP
Partai ini bagian dari koalisi, akan mengalami penurunan tapi tidak drastis seperti PD dan PKS. Dibandingkan Partai Islam lainnya PPP relatif stabil sehingga penurunan tidak jauh dari 5,32 persen pada Pemilu 2009.
5. PBB
Partai ini diprediksi tetap sulit akan melewati ambang batas Pemilu 2014. Hal ini disebabkan lemahnya pencitraan di media massa dan kontroversi soal ketua umumnya, dan pencalegkan Susno Duadji menjadi konteks yang mempersulit peluang PBB di 2014.
6. PKB
Faktor Gusdur sudah hilang dari partai ini semenjak Muhaimin Iskandar mengambil alih partai ini secara konflik. Dugaan korupsi yang melibatkan elit partai membuat partai ini akan mengalami penurunan malah hampir mendekati ambang batas.
7. PKS
Skandal impor daging, dan isu pornografi, membuat partai ini bakal kehilangan pemilih Migran dari NU maupun Muhammadiyah. Maka diprediksi PKS akan mengalami penyusutan dukungan sehingga perolehan suara berkisar 5-6 persen.
8. PAN
Faktor Hatta Rajasa yang kurang intens mengurus partai dan posisi PAN dalam koalisi pemerintah, menjadikan PAN sebagai alat politik dan ikut memikul beban pemerintah. Partai ini akan merosot di bawah 5 persen di Pemilu 2014.
9. Gerindra
Partai yang baru ikut Pemilu 2009 ini karena faktor Prabowo yang sangat kuat, kerja politik yang terus maju dan peran oposisi di Parlemen bersama PDIP membuat Gerindra menjadi ancaman bagi partai menengah lama. Diduga Gerindra akan menjadi pemberhentian bagi migrasi pemilih di 2014. Sehingga lonjakan dukungan akan mengulang kisah PKS 2004 atau Demokrat 2009, dan diprediksi akan melewati 5 persen perolohan suara.
10. Hanura
Partai ini sebenarnya diperkirakan akan tenggelam, tapi karena bergabungnya bos media Harry Tanoe ke Hanura menjadi amunisi untuk Hanura bangkit, sehingga diprediksikan perolehan suaranya melewati 5 persen.
11. PKPI
PKPI dan beberapa partai kecil yang gagal lolos Pemilu 2014 telah bergabung menjadi satu kekuatan. Dengan strategi media yang kuat dan mobilisasi dukungan oleh kader-kader daerah, serta manuver Sutiyoso sebagai tokoh yang menjadi kekuatan PKPI, partai ini bisa menjadi kuda hitam 2014. Sehingga untuk menembus 4 persen bukanlah hal yang mustahil, dengan asumsi PBB hilang, partai menengah yang lama, terus merosot.
12. Nasional Demokrat
Muncul sebagai partai baru, dengan rencana dan strategi branding yang kuat, namun tiba-tiba dilanda dengan hengkangnya Harry Tanoe dari Nasdem. Namun partai ini tetap seksi bagi pemilih karena cenderung dilihat sebagai tempat pemberhentian pemilih migran. Partai ini diprediksi menjadi partai menengah baru meraih dukungan di atas 5 persen.
