Notification

×

Pertamina Janji Tindak Agen Elpiji Menyimpang

12 May 2013 | 22:17 WIB Last Updated 2013-05-12T18:50:36Z

LAMPUNG -
PT Pertamina di wilayah Sumatera Bagian Selatan akan menindak secara tegas agen atau lembaga penyalur yang terbukti menjadi bagian dan terlibat dalam penyelewengan distribusi dan penjualan gas khususnya dalam tabung ukuran 3 kg.

Asisten Manager External Relation PT Pertamina Fuel Retail Marketing (FRM) Regional II Sumbagsel Roberth MV Dumatubun menjelaskan hal itu saat dihubungi, Minggu (12/5/2013). Berkaitan kelangkaan LPG dalam tabung 3 kg di Lampung sehingga harganya melonjak menjadi Rp 35.000 per tabung, Roberth menduga telah terjadi penyalahgunaan penyaluran maupun penggunaannya.

"Kami mengajak masyarakat turut mengawasi pendistribusian LPG agar tepat sasaran dan tidak mencarinya di pengecer atau menjadi pengecer serta melaporkan apabila menemukan adanya penyelewengan kepada pihak kepolisian," ujar Roberth mengingatkan.

Dia menjelaskan, kuota gas untuk Provinsi Lampung memang berkurang 1,2 persen dari kuota tahun 2012, sehingga dirasakan tidak mencukupi dengan permintaan di Lampung yang tentunya akan semakin naik dari tahun ke tahun.

"Saat ini Pertamina sudah menyalurkan lebih dari rata-rata normal untuk LPG 3 kg di Lampung," kata dia lagi. Roberth menyebutkan, penyaluran LPG 3 kg di wilayah Provinsi Lampung telah melebihi dari penyaluran normal berdasarkan kuota LPG 3 kg dari pemerintah.

Penyaluran LPG 3 kg di Provinsi Lampung dalam metrik ton (MT) realisasinya sampai dengan April 2013 adalah 31.991 MT dari kuota seharusnya sampai dengan April itu adalah 29.310 MT.

Kuota LPG 3 kg untuk Lampung tahun 2013 adalah 87.931 MT, dan secara persentase sampai dengan April ini telah disalurkan sebesar 109,1 persen. Roberth menjelaskan, untuk evaluasi di lapangan, menunjukkan masih terdapat LPG yang salah sasaran dan digunakan pihak hotel, restoran, dan kafe serta pengecer LPG yang menentukan harga seenaknya.

"Pertamina sudah meminta bantuan kepada Pemda Provinsi Lampung melalui gubernur untuk dapat meminta tambahan alokasi kuota LPG di daerah ini," katanya pula.

Dia menegaskan, kondisi kelangkaan persediaan LPG dialami warga Lampung termasuk di Kota Bandarlampung akhir-akhir ini, memang akibat LPG-nya yang kurang walaupun sudah dipasok melebihi kuota yang ditentukan pemerintah.

Sejumlah konsumen gas ukuran tabung 3 kg di Lampung mengeluhkan kondisi tersebut, beberapa di antara mereka yang tinggal di pedesaan mengaku terpaksa kembali menggunakan kayu bakar akibat pasokan elpiji mengalami kelangkaan tersebut.

Warga juga mempertanyakan keberlanjutan kebijakan konversi minyak tanah ke gas yang digalakkan pemerintah, namun saat ini justru pasokan elpiji mengalami kekurangan sehingga sulit didapatkan dan bila ada harganya melonjak dibandingkan kondisi normal.

Harga gas dalam tabung ukuran tiga kilogram pada tingkat pengecer di Kota Bandarlampung saat ini melonjak hingga mencapai Rp35.000 dari sebelumnya Rp15.000. Para pengecer penjualan gas di Bandarlampung, mengaku menaikkan harga bahan bakar gas itu untuk menghemat persediaan karena distribusi LPG ukuran 3 kg ke pedagang sejak beberapa pekan terakhir tersendat.

"Sudah satu minggu ini gas dalam tabung ukuran 3 kg belum dikirim, sedangkan persediaan sudah menipis," kata Ali (39), pedagang pengecer gas di Kelurahan Kedamaian Bandarlampung.

Dia menyatakan, harga elpiji saat ini lebih tinggi dari biasanya agar masyarakat tetap mendapatkannya, mengingat bila harganya tetap sama dengan sebelumnya konsumen dapat membeli lebih dari dua tabung yang mereka inginkan.

Kenaikan harga gas dalam tabung 3 kg itu juga dipicu oleh distribusinya ke pedagang yang lambat, bahkan sejumlah pengecer tidak mendapatkan elpiji ukuran tiga kilogram dari distributor. "Pembelian memang tidak dibatasi hanya saja telah dinaikkan harganya, sehingga warga yang lain kebagian," kata dia lagi.

Konsumen di Bandarlampung sejak sepekan terakhir sulit mendapatkan gas ukuran tiga kilogram, sehingga mereka mengeluhkannya karena tidak dapat menggunakan bahan bakar itu untuk berbagai keperluan terutama memasak.

"Saya sudah dua hari ini keliling mencari gas dalam tabung ukuran tiga kilogram, jika pun ada harganya sangat tinggi sekali antara Rp25.000 hingga Rp35.000 per tabung," kata Sri (48), salah satu konsumen di kota ini.

Dia mengatakan, berdasarkan keterangan pengecer, tingginya harga elpiji tersebut karena distribusi komoditas tersebut tersendat sejak beberapa pekan terakhir. "Diduga pula banyak pedagang yang menimbun gas, sehingga mereka menaikkan harga semaunya," kata dia pula. 

Menurut dia, harga gas kalau dibiarkan seperti saat ini terus berlangsung sangat menyengsarakan masyarakat khususnya warga kurang mampu. Karena itu, ia minta pemerintah dapat segera mengatasi permasalahan kekurangan persediaan elpiji yang sejak sepekan terakhir cenderung menghilang dari pasaran.