Notification

×

Hipmi Lampung Tolak 1 Mei Libur Nasional

02 May 2013 | 08:40 WIB Last Updated 2016-07-31T12:03:21Z

LAMPUNG -
Ketua Umum BPD Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi ) Lampung Rivan Novendra Salim menolak wacana menjadikan Mayday libur nasional. Peringatan Hari Buruh International pun tidak semua buruh berpartisipasi dalam demo yang diselenggarakan serikat pekerja.

"Bagaimana kita mau produktif kalau banyak liburnya? Buntutnya, hari Ibu, hari anak dan lain-lain apakah harus libur nasional juga? Berbicara buruh demo, toh tidak semuanya demo. Kategori buruh juga tidak hanya pekerja yang bekerja di pabrik," tukas Rivan, Rabu (1/5/2013).

Lebih lanjut disampaikannya, produktifitas dalam bidang apapun mutlak dikerjakan pengusaha dan karyawan beriringan. Tujuannya meningkatkan kesejahteraan ekonomi. Kondisi saat ini bukan menyangkut persaingan antar pengusaha lokal dan nasional saja. Namun, persaingan justru kini antara pengusaha global. Jika kalah bersaing produktifitas, pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan buruh akan tersendat bahkan cenderung lambat meningkat. 

Senada diungkapkan Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Lampung Yusuf Kohar. Menurutnya, pemerintah harus jeli dan komprehensif menggulirkan wacana libur nasional setiap 1 Mei. Jeli dalam artian, apakah hanya sekadar wacana politik saja, sedangkan komprehensif, mau tidak mau harus membandingkan dengan negara lain.

"Wacana (libur nasional 1 Mei) apakah semua negara menerapkan hal yang sama? Setau saya tidak, harus dipandang secara global. Secara komprehensif, kalaupun ditetapkan libur, sebaiknya mengikuti membandingkan berapa banyak negara lain yang menerapkan hal tersebut. Jika dua hal ini jeli dan komprehensif sudah diperhitungkan, kami (pengusaha) akan ikut," ujarnya

Yusuf Kohar mengkritisi wacana kebijakan libur nasional setiap 1 Mei yang dilontarkan pemerintah. Itu karena, para pengusaha yang mengelola perusahaan serta memperkerjakan buruh sampai ratusan dan ribuan, mau tidak mau akan berhenti beroperasi selama satu hari.

"High cost economy harus diperhitungkan para pengusaha jika jadi 1 Mei libur nasional. Indonesia menempati peringkat 172 di dunia dalam hal produktifitas. Negara kita ini sebenarnya sudah banyak libur nasional dalam setahun dan ini sangat tidak efektif untuk produktifitas kerja," tukasnya..

Menurut Kohar, cukup berat pabrik berhenti berproduksi demi Hari Buruh International. Pengusaha yang mengelola pabrik harus terus memproduksi produk setiap hari untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Kondisi ini juga dijalankan pada saat libur nasional lainnya. Karyawan yang kerja pada libur nasional pun diberi upah lembur.

"Peringatan Hari Buruh International seharusnya disikapi bijaksana antara buruh dan pengusaha. Momentum ini harus dijadikan koreksi karena pada dasarnya buruh-pengusaha tinggal di satu atap," ujar Kohar.

Sementara, buruh Lampung menyambut baik rencana 1 Mei dijadikan hari libur nasional. Sulaiman, pengurus Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) Lampung menyampaikan, peringatan Hari Buruh International sudah sepatutnya menjadi libur nasional di Indonesia.

Kondisi ini bisa dimaknai sebagai bentuk perjuangan kaum buruh di Indonesia. Jika setiap 1 Mei buruh konsisten menggelar demo di seluruh kota tak lain ada ketidakadilan terkait kesejahteraan dari pemerintah,  kebijakan perusahaan seputar upah, jam kerja, dan lembur.

"Peringatan Mayday tidak semua buruh Lampung ikut serta. Pengusaha tidak iklas mengizinkan buruh meninggalkan pekerjaan sehari untuk ikut demo. Selama buruh belum sejahtera, akan selalu ada demo dan tidak hanya setiap 1 Mei saja. Kenapa di Amerika Serikat buruh jarang demo karena sejahtera, terlepas mereka negara maju," tutur Sulaiman.

Lebih lanjut disampaikannya, buruh tidak akan melawan pengusaha dan pemerintah apabila pendekatan yang dilakukan adil. Di sisi lain, buruh tidak hanya berpikir demo saja jika merasa diperlakukan tidak adil dari pengusaha. Kesadaran buruh Lampung untuk maju dalam produktifitas kerja dan kesejahteraan semakin meningkat.