Notification

×

Trans Bandar Lampung Gagal Kredit Rp 73,6 Miliar

18 March 2013 | 11:17 WIB Last Updated 2016-07-31T11:13:15Z

BANDAR LAMPUNG -
PT Bank Jawa Barat dan Banten (BJB) Tbk., menyatakan jika konsorsium Trans Bandar Lampung gagal kredit Rp73,6 miliar. Kredit untuk pembelian sebagian armada bus rapid transit (BRT) tersebut disalurkan melalui PT Pracico Multifinance. Kredit tersebut untuk pembelian 250 armada Trans Bandar Lampung. Harga satu bus mencapai Rp525 juta dengan 10% bunga kredit.

Kepala Cabang BJB Bandar Lampung Adie Arief Wibawa, mengakui informasi gagal kredit itu pernah dibahas. Namun pihaknya tidak menagih kredit tersebut kepada Konsorsium Trans Bandar Lampung. "Kredit tersebut kami salurkan melalui PT Pracico Multifinance, jadi kami menagihnya ke PT Pracico, karena tanggungjawab penagihan ada pada mereka (Pracico, red)," kata Adie Arief Wibawa, ketika dikonfirmasi, Minggu (17/3/2013).

Terungkapnya gagal kredit Trans Bandar Lampung tersebut, bermula dari laporan kinerja BJB tahun anggaran 2012. Tahun lalu, BJB mampu mencatat laba hingga Rp1 triliun. Namun kinerja baik tersebut terhadang rapor merah pada rasio kredit macet (non performing loan/NPL) yang mencapai 2,1%, naik dari posisi 1,2% di tahun 2011.

Kredit komersial BJB mencatat kenaikan NPL terbesar, dari 4,8% menjadi 7,3%. Dalam laporannya, Direktur Utama BJB Bien Subiantoro mengatakan, peningkatan NPL komersial ini karena adanya beberapa penyelewengan, kegagalan, dan penyalahgunaan kredit. Misalnya, PT Pracico Multifinance yang mengalami kegagalan kredit terhadap pengguna akhirnya, Trans Bandar Lampung, sebesar Rp73,6 miliar.

Menurut Adie Arief, proses pencairan dana tersebut dilakukan jauh sebelum BJB buka cabang di Bandar Lampung. Menurut Adie, pencairan dana tersebut melalui BJB Kantor Cabang Khusus (KCK) Jakarta. "Kami baru buka cabang di Bandar Lampung pada Maret 2013, sedangkan proses kredit itu bersama Pracico, jauh sebelumnya," kata Adie.

Gagal kredit Trans Bandar Lampung tersebut, menurut Adie, mendapat perhatian khusus manajemen BJB karena jumlahnya besar. Keseriusan tersebut, lanjut dia, dilakukan dengan pertemuan segitiga antara manajemen BJB pusat, PT Pracico Multifinance, dan Pemerintah Kota Bandar Lampung, bulan Februari lalu. Namun Adie, mengaku tidak tahu apa hasil pertemuan tersebut.

"Sebenarnya, Pracico ini perusahaan pembiayaan yang berpengalaman dalam membiayai kredit angkutan massa, seperti mendanai sejumlah armada bus way Trans Jakarta. Tapi entah kenapa di Bandar Lampung, terjadi gagal kredit," kata Adie.

Namun Direktur Utama (Dirut) BRT Trans Bandar Lampung I Gede Jelantik, mengaku belum mengetahui gagal kredit tersebut. "Kami belum dapat infonya, BJB belum memberitahu ke kami atas hal itu," kata I Gede Jelantik.

I Gede Jelantik yang akrab disapa Jelantik ini menyesalkan sikap pihak BJB yang belum memberitahu ke pihak konsorsium. "Seharusnya beritahu ke kami dulu dong, jangan ke pihak lain dulu. Sampai sekarang pun kami belum tahu," kata Jelantik yang juga anggota DPRD Provinsi Lampung itu.

Namun, ketika dimintai keterangan mengenai jumlah pinjaman konsorsium BRT ke pihak PT Pracico Multifinance, dirinya belum bisa memberikan data valid. "Itu (dana pinjaman) kan ada beberapa perubahan anggaran kemarin itu, jadi masih akan dihitung," ungkapnya.

Kemudian ketika ditanya mengenai kesanggupan dalam melunasi pinjaman tersebut, Jelantik berkilah. "Ya ini kan rahasia perusahaan, kalau bisa jangan dipublikasikan dululah. Seharusnya BJB memberi tahu kami dulu atas permasalahan ini," kata Jelantik seraya menutup telponnya.