Notification

×

Pemadaman Listrik karena Patahnya Dua Tower Transmisi

18 March 2013 | 12:07 WIB Last Updated 2016-07-31T12:04:11Z
Inilah beberapa penyebab padamnya listrik di sebagian wilayah Lampung Sabtu (16/3/2013) malam. Dua tower transmisi, tower 38 dan 39, yang mendistribusikan arus listrik dari Gardu Induk Natar ke Tegineneng, roboh karena angin kencang. (noval/tribunlampung.co.id)

LAMPUNG -
Pemadaman listrik yang terjadi hampir di seluruh wilayah Lampung, Sabtu (16/3/2013) lalu, disebabkan karena patahnya dua tower transmisi berkapasitas 150 KV dengan kode tower 38 dan 39 yang berada di Branti, Natar, Lampung Selatan.

Manajer UPT Tanjungkarang Unit Pelayanan Transmisi PLN Handy Wihartady mengatakan, terjadinya pemadaman listrik akibat adanya gangguan yang terjadi secara berurutan. "Iya, sebenarnya ini kejadiannya berurutan, jadi di sini gangguan (tower 38-39), lalu pada waktu yang sama kita ada gangguan di unit PLTA Tarahan empat, lalu ada over hole di unit PLTU Tarahan tiga," kata Handy kepada wartawan di lokasi ambruknya tower, Minggu (17/3/2013).

Dijelaskan Handy, untuk unit PLTA Tarahan empat baru masuk supply pada Minggu (17/3/2013) sekitar pukul 13.30 WIB. "Selain itu sebenarnya kita bisa masuk jalur lain, untuk supply ke arah Lampung. Jadi dari Tegineneng, bisa ke arah Sribawono, kearah Metro, lalu New Tarahan, kemudian Sutami baru ke arah Telukbetung (kearah kota), supply-nya seperti itu," jelasnya.

Akan tetapi, lanjut Handy, Sabtu (16/3/2013) gangguan ini terjadi secara bersamaan. "Pembangkit mengalami gangguan. Ketika mau di start up lagi teryata unit empatnya ngga bisa start up. Ada gangguan di membran, sampai tadi (kemarin) baru start up jam setengah dua," lanjutnya.

Handy berharap pemulihan bisa selesai secepat mungkin. "Kita harapkan untuk pemulihannya sekarang," harapnya. Untuk mengatasi rubuhnya tower 38-39 ini, pihaknya akan mendirikan tower darurat. "Jadi ini ada salah satu line yang sudah dibebaskan dari tower yang rubuh akan kita pakaikan di tower darurat. Kita bisa alihkan dua tower ini (tower yang rubuh) jadi satu di tower darurat," ujar Handy.

Menurut Handy, paling lambat besok (hari ini) sudah bisa beroperasi dengan normal. "Tapi kita usahakan malam ini (kemarin malam) juga (bisa beroperasi). Karena material tower juga sedang dalam perjalanan ke sini (lokasi rubuhnya tower)," terangnya. Penggunaan tower darurat ini juga, menurut Handy untuk mengantisipasi kalau unit PLTA Tarahan empat mengalami gangguan lagi.

"Kalau PLTA Tarahan empat gangguan lagi, berarti otomatis kita mengharapkan transfer (arus listrik) dari sistem Sumsel (Sumatera Selatan), sedangkan kalau kita tetap pakai hanya jalur yang tadi saya bilang, dari Tegineneng ke beberapa tempat tadi, kita ada kendala di batasan salur daya. Untuk dua sirkuit itu hanya sekitar 1200 ampere, ngga bisa lebih dari itu," paparnya.

Jadi, terus Handy, kalau seumpamanya sudah bisa operasi satu sirkuit, biarpun unit PLTA Tarahan empat padam, pemadamannya tidak akan se-ekstrem Sabtu (16/3/2013) kemarin. "Lampung tidak padam total (Sabtu 16/3/2013 kemarin). Kita hanya hilang (padam listrik) dari Tegineneng ke bawah (ke arah Lampung Selatan). Sedangkan wilayah Bukit Kemuning, Kotabumi, Bandar Jaya, Tegineneng masih aman supply-nya," imbuhnya.
Perbaikan total tower yang rubuh tersebut, menurut Handy sekitar satu minggu. "Perbaikan total (tanpa tower darurat) kita perkirakan mungkin sekitar satu minggu. Jadi, selama seminggu kita operasi dengan menggunakan tower darurat setelah itu kita bisa pakai tower permanen lagi," tambahnya.