![]() |
| Alzier Dianis Thabranie dan Sjachroedin ZP |
LAMPUNG - Ketua DPD I Partai Golkar Lampung Alzier Dianis Thabranie sudah memilih dua nama untuk menjadi pendampingnya, pada pemilihan gubernur (pilgub) mendatang. Dari dua nama yang ia sebutkan, tidak ada nama Bupati Lampung Selatan Rycko Menoza.
Kedua nama yang diinginkan Alzier untuk mendampinginya adalah Bupati Lampung Barat Mukhlis Basri dan Wakil Gubernur Lampung Joko Umar Said. "Saya hanya ingin maju pilgub dengan Mukhlis dan Joko," ujarnya kepada wartawan usai acara Dialog Kebangsaan Fatayat Nadhlatul Ulama (NU) di Graha Parahita Hotel Marcopolo, Minggu (10/3/2013).
Menurutnya, dirinya akan terus berkoordinasi dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) untuk bisa mendapatkan Mukhlis dan Joko. Ini dikarenakan Mukhlis adalah kader PDIP dan Joko maju sebagai wakil gubernur atas dukungan PDIP.
Kedua nama yang diinginkan Alzier untuk mendampinginya adalah Bupati Lampung Barat Mukhlis Basri dan Wakil Gubernur Lampung Joko Umar Said. "Saya hanya ingin maju pilgub dengan Mukhlis dan Joko," ujarnya kepada wartawan usai acara Dialog Kebangsaan Fatayat Nadhlatul Ulama (NU) di Graha Parahita Hotel Marcopolo, Minggu (10/3/2013).
Menurutnya, dirinya akan terus berkoordinasi dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) untuk bisa mendapatkan Mukhlis dan Joko. Ini dikarenakan Mukhlis adalah kader PDIP dan Joko maju sebagai wakil gubernur atas dukungan PDIP.
Sebelumnya, Sekretaris Balitbang Bidang Informasi Kepartaaain Survei dan Data,
DPD Partai Golkar Lampung, Dwie Aroem Hadiatie Alzier menyatakan wacana
koalisi PDIP dan Golkar terkait Pilgub Lampung dinilainya baik, namun
hal itu sulit terwujud.
"Koalisi bisa saja, tapi mungkin itu sulit terwujud. Karena ada catatan sejarah antara Ketua DPD I Partai Golkar Lampung dengan PDIP khususunya ketua Umum PDIP Lampung," kata Areom saat berbincang khusus di kafe kopitiam, Kamis (7/3/2013) lalu.
Apalagi, kata dia, PDIP merupkan partai nomor dua pemenang pemilu, dan mekanisme penetapan calon gubernur antara PDIP dan Golkar sangat berbeda.
"Ya mekanisme di PDIP kan tergantung DPP khususnya ketua umumnya, sedangkan di Golkar melalui mekanisme survei, tapi kita lihat saja kedepan, namanya politik semua bisa saja, meskipun peluangnya sangat kecil," pungkasnya.
"Koalisi bisa saja, tapi mungkin itu sulit terwujud. Karena ada catatan sejarah antara Ketua DPD I Partai Golkar Lampung dengan PDIP khususunya ketua Umum PDIP Lampung," kata Areom saat berbincang khusus di kafe kopitiam, Kamis (7/3/2013) lalu.
Apalagi, kata dia, PDIP merupkan partai nomor dua pemenang pemilu, dan mekanisme penetapan calon gubernur antara PDIP dan Golkar sangat berbeda.
"Ya mekanisme di PDIP kan tergantung DPP khususnya ketua umumnya, sedangkan di Golkar melalui mekanisme survei, tapi kita lihat saja kedepan, namanya politik semua bisa saja, meskipun peluangnya sangat kecil," pungkasnya.
Sementara, Gubernur Lampung Sjachroedin ZP memberikan sinyal tentang siapa yang didukungnya untuk menjadi gubernur dan wakil gubernur selanjutnya. Walaupun tidak menyebut nama, Sjachroedin menyebut kriteria.
Kriteria pemimpin Lampung yang diinginkan Sjachroedin adalah orang yang berpengalaman di bidang pemerintahan. "Harapan saya yang menjadi gubernur mendatang adalah yang mengerti pemerintahan," ujar dia kepada wartawan, Selasa (5/3/2013) lalu.
Sjachroedin mengatakan, idealnya yang memimpin pemerintahan adalah orang yang mengerti pemerintahan. Saat ditanya apakah orang yang dimaksud adalah Herman HN dan Berlian Tihang, Sjachroedin tidak menjawab pasti.
"Ini (proses pencalonan) kan sambil berjalan. Kita tidak tahu apa yang terjadi besok. Pelaksanaan pilgub saja belum tahu kapan," ungkap Oedin, sapaan akrab Sjachroedin.
Kriteria pemimpin Lampung yang diinginkan Sjachroedin adalah orang yang berpengalaman di bidang pemerintahan. "Harapan saya yang menjadi gubernur mendatang adalah yang mengerti pemerintahan," ujar dia kepada wartawan, Selasa (5/3/2013) lalu.
Sjachroedin mengatakan, idealnya yang memimpin pemerintahan adalah orang yang mengerti pemerintahan. Saat ditanya apakah orang yang dimaksud adalah Herman HN dan Berlian Tihang, Sjachroedin tidak menjawab pasti.
"Ini (proses pencalonan) kan sambil berjalan. Kita tidak tahu apa yang terjadi besok. Pelaksanaan pilgub saja belum tahu kapan," ungkap Oedin, sapaan akrab Sjachroedin.
Dia juga membantah pertemuannya dengan Alzier beberapa waktu lalu, merupakan sinyal koalisi PDIP dan Golkar. Ia menuturkan, pertemuan tersebut tidak ada kaitannya sama sekali dengan partai. Ia menegaskan pertemuan itu bersifat pribadi.
Menurutnya, pada pertemuan dengan Alzier hanya membicarakan dukungan tentang program pemerintah. "Dia (Alzier) mendukung program pemerintah. Ya kami terima kasih," papar mantan Deputi Operasional Kapolri ini.
Mengenai jadwal pilgub, menurut Sjachroedin, boleh saja Komisi Pemilihan Umum (KPU) menentukan jadwal. Tapi sebagai gubernur, Sjachroedin merasa punya kewenangan terkait anggaran. "Penyelenggaraan pilgub memerlukan dana. Sedangkan keputusan penganggaran ada di tangan gubernur," tukasnya.
Menurutnya, pada pertemuan dengan Alzier hanya membicarakan dukungan tentang program pemerintah. "Dia (Alzier) mendukung program pemerintah. Ya kami terima kasih," papar mantan Deputi Operasional Kapolri ini.
Mengenai jadwal pilgub, menurut Sjachroedin, boleh saja Komisi Pemilihan Umum (KPU) menentukan jadwal. Tapi sebagai gubernur, Sjachroedin merasa punya kewenangan terkait anggaran. "Penyelenggaraan pilgub memerlukan dana. Sedangkan keputusan penganggaran ada di tangan gubernur," tukasnya.
